Tuesday, 4 February 2014

Filosofi Bebek dan Ulat

Nama Karya                      : Lukisan
Ukuran                           : 140x 100cm
Tema                             : Hewan
Tahun Pembuatan                : 2013
Media dan Alat Pembuatan Karya    : Cat Minyak Dan Canvas
Judul Lukisan                    : Bebek Berenang



Filosofis :
Bebek melambangkan kesabaran, hewan yang sangat mampu bersosialisasi tidak memandang umur, jabatan, atau asal usul mereka dalam satu kelompok yang bagaikan peleton pasukan yakni pasukan bebek. Meskipun bebek adalah hewan dengan tingkat kecerdasan tidak melebihi seekor anjing yang mudah dilatih, bebek ternyata masih mempunyai naluri untuk tanggap dengan lingkungannya dan untuk bertahan hidup serta saling menyayangi.
Saat kita melihat bebek sedang berenang, bebek tampak tenang dan anggun. Hal itu jika kita lihat dari atas kolam terlihat tenang dan anggun. Bila kita melihat dari dalam kolam kita baru menyadari betapa gigihnya kaki bebek mengayuh agar bebek bisa tetap diatas dengan tenang dan anggun. Bebek merupakan sosok yang sabar, meskipun kelelahan mengayuh saat berenang ia tetap terlihat tenang.
Pembuat                          :
1.     Henry A. R.                       11120448
2.    Nurul Aini Hayati              11120450
3.    Hilda Fitriana                   11120459
4.    Aisyah                              11120462


Nama Karya       : Mozaik
Ukuran             : A 1
Tema               : Hewan (Serangga)
Pembuat           :
1.     Henry A. R.                       11120448
2.    Nurul Aini Hayati              11120450
3.    Hilda Fitriana                   11120459
4.    Aisyah                              11120462
Tahun Pembuatan : 2013

Media dan Alat Pembuatan Karya :
Potongan kertas asturo diatas kertas duplek berlandaskan kertas manila yang direkatkan dengan lem dan di bingkai dengan kayu serta kaca.


Judul Lukisan      : Kehidupan Ular

Filosofis :
Ulat melambangkan kegigihan. Perjalanan sebuah ulet untuk menjadi kupu-kupu sangatlah panjang. Dimulai dari ulet yang jelek, menjijikkan dan ditakuti orang, setelah dia kesana kemari makan dedaunan,membuat pohon2 rontok daunnya. Ulat kupu-kupu tidak sembarang makan dedaunan dari sembarang pohon. Ia makan dedaunan dari tumbuhan yang  dianggap ‘beracun’ bagi organisme lain. Ia memenuhi tubuhnya dengan racun sebagai bentuk pertahanan tubuh, agar ia tidak dimakan. Makanan beracun itulah yang membuat dia kuat. Menariknya, ulat kupu-kupu sebenarnya tidak menyebabkan gatal atau menyengat seperti yang dibayangkan. Ulat kupu-kupu tidak berbahaya untuk dipegang, mereka ramah, bahkan rapuh.
Dari ulat ini, kita dapat belajar bahwa Tuhan memberi kita pilihan antara jalan yang sulit atau jalan yang mudah. Banyak dari kita memilih jalan yang mudah, kita memasang pelindung diri, yang justru melukai akan orang lain. Sedangkan sedikit dari kita yang memilih untuk memilih jalan yang sulit, yang memilih untuk memakan ‘Racun’ yang justru akan memperkuat kita dari dalam, sehingga kita tidak akan melukai orang lain di sekitar kita.